BUKITTINGGI — Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menghadiri The 2nd International Conference of Fort De Kock University (ICOF 2026) di kampus Universitas Fort De Kock, Jumat (22/5/2026). Konferensi bertema “The Effect of Global Change Across Multiple Sectors to Increase Quality of Human Resources” itu menghadirkan akademisi dari Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Australia, Arab Saudi, dan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.
IPM Sumbar 77,27: Apa Artinya bagi Warga?
Mahyeldi menyebut IPM Sumbar sebesar 77,27 pada 2025, naik 0,84 poin dibanding tahun sebelumnya. Capaian itu menempatkan Sumbar di peringkat keenam nasional. “Indikator ini menunjukkan perkembangan positif pembangunan manusia di daerah kita,” ujarnya.
Menurut data BPS, IPM mengukur tiga dimensi utama: umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak. Kenaikan 0,84 poin dalam setahun berarti akses warga terhadap pendidikan, kesehatan, dan daya beli meningkat secara terukur.
Tantangan Global yang Mengancam SDM Daerah
Mahyeldi mengidentifikasi setidaknya empat tantangan besar yang harus dihadapi Sumbar: revolusi industri 4.0, perubahan iklim, ekonomi digital, dan ketahanan pangan. “Semua itu menuntut SDM yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri,” kata gubernur.
Ia menegaskan bahwa Pemprov Sumbar berkomitmen memperkuat sektor pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan daya saing masyarakat. Semua itu sejalan dengan visi “Sumatera Barat Madani yang Maju dan Berkeadilan”.
Falsafah ABS-SBK Jadi Fondasi Karakter
Dalam pidatonya, Mahyeldi menekankan pentingnya nilai budaya Minangkabau sebagai pegangan moral. Falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK) disebutnya menjadi fondasi pembangunan karakter di tengah arus globalisasi.
“Pengembangan SDM harus bertumpu pada dua hal utama: adaptif dan berbudaya. Adaptif terhadap kemajuan teknologi dan perubahan global, namun tetap berpegang pada nilai-nilai budaya Minangkabau sebagai kekuatan identitas,” ungkapnya.
Konferensi Internasional: Ruang Strategis untuk Kolaborasi
Gubernur menilai ICOF 2026 menjadi ruang strategis memperkuat kerja sama lintas negara dalam menjawab dinamika perubahan global. “Atas nama Pemprov Sumbar, kami menyampaikan selamat datang kepada seluruh narasumber dan peserta di Kota Bukittinggi, kota wisata yang dikenal dengan kekayaan budaya, tradisi intelektual, serta semangat kebersamaan,” ujar Mahyeldi.
Konferensi dua tahunan ini diikuti akademisi dan pakar dari lima negara. Selain sesi pleno, acara juga menghadirkan diskusi panel dan presentasi riset tentang dampak perubahan global di berbagai sektor.
Bagaimana Dampak Langsung Konferensi Ini bagi Warga Sumbar?
Hasil riset dan rekomendasi dari ICOF 2026 diharapkan bisa diadopsi Pemprov dalam merumuskan kebijakan pendidikan dan pelatihan vokasi. Rekomendasi dari akademisi asing juga bisa menjadi bahan evaluasi program peningkatan IPM di daerah-daerah terpencil di Sumbar.