BUKITTINGGI — Prof. Silfia, akademisi dari UIN Bukittinggi, menyampaikan bahwa pemilihan Sumatera Barat sebagai lokasi konferensi bukan tanpa alasan. Menurutnya, kekayaan budaya nagari dan praktik moderasi beragama yang telah mengakar di masyarakat menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti internasional.
Pertemuan NICMCR tahun ini mengusung tema yang menyoroti peran riset budaya dalam menjembatani kesenjangan pemahaman antaragama di era digital. Sejumlah panel diskusi menghadirkan pembicara dari Malaysia, Australia, dan Timur Tengah.
Mengapa Budaya Nagari Jadi Sorotan Peneliti Asing?
Prof. Silfia menjelaskan bahwa sistem sosial berbasis nagari di Sumatera Barat menawarkan model unik tentang bagaimana tradisi dan agama bisa berjalan beriringan. "Ini bukan sekadar seminar. Kami ingin menunjukkan pada dunia bahwa riset budaya bisa menjadi alat diplomasi lunak dan penguatan toleransi," ujarnya dalam sambutan.
Konferensi ini juga menjadi ajang bagi peneliti muda Indonesia untuk mempresentasikan temuan mereka di hadapan forum global. Beberapa riset yang dipresentasikan menyentuh topik digitalisasi manuskrip kuno Minangkabau dan revitalisasi seni baca Al-Quran di pesisir barat Sumatera.
Dampak bagi Akademisi dan Mahasiswa Lokal
Bagi sivitas akademika UIN Bukittinggi, menjadi tuan rumah NICMCR membuka peluang kolaborasi riset jangka panjang. "Kami bisa langsung berdiskusi dengan profesor dari luar negeri tanpa harus pergi jauh. Ini kesempatan langka," kata seorang mahasiswa pascasarjana yang hadir.
NICMCR sendiri merupakan forum tahunan yang bergiliran dihelat di berbagai kampus di Asia Tenggara. Tahun lalu, konferensi serupa digelar di Universitas Malaya, Malaysia. Pemilihan UIN Bukittinggi sebagai tuan rumah tahun ini dinilai sebagai pengakuan atas konsistensi kampus tersebut dalam mengangkat kearifan lokal ke panggung global.
Apa Langkah UIN Bukittinggi Selanjutnya?
Pasca-konferensi, Prof. Silfia menargetkan penerbitan prosiding internasional yang memuat seluruh riset yang dipresentasikan. Selain itu, riset tentang moderasi beragama di Sumatera Barat diharapkan bisa menjadi rujukan bagi kampus-kampus lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa.
Konferensi NICMCR berlangsung selama tiga hari dan diikuti oleh lebih dari 100 peserta, termasuk perwakilan dari Kementerian Agama RI. Agenda ini sekaligus menjadi penutup rangkaian acara tahunan UIN Bukittinggi yang berfokus pada penguatan studi budaya dan keislaman.