Pencarian

Program Konversi Motor Listrik Indonesia Butuh Redefinisi, Bukan Sekadar Target Kuantitas

Sabtu, 20 Juni 2026 • 00:04:31 WIB
Program Konversi Motor Listrik Indonesia Butuh Redefinisi, Bukan Sekadar Target Kuantitas
Program konversi motor listrik di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mencapai target pemerintah.

SUMATERA BARAT — Data di lapangan menunjukkan laju konversi sepeda motor listrik di Indonesia masih timpang jika dibandingkan dengan target ambisius pemerintah. Regulasi bengkel tersertifikasi dan insentif subsidi sudah digelontorkan, tapi animo masyarakat belum juga bergerak signifikan. Akar masalahnya bukan semata soal teknis, melainkan kerangka pikir yang keliru dalam mendefinisikan kesuksesan program ini.

Mengapa Konsumen Ogah Konversi?

Dari sisi konsumen, membawa motor bensin harian ke bengkel untuk dibongkar total adalah tantangan psikologis yang berat. Belum lagi urusan administrasi perubahan STNK dan BPKB yang panjang. Ironisnya, biaya yang harus dikeluarkan—meski sudah disubsidi—sering kali setara dengan uang muka motor listrik baru dari diler.

Pabrikan besar dengan modal raksasa dan rantai pasok global jelas lebih unggul. Mereka bisa menawarkan motor listrik baru dengan harga lebih murah, desain lebih rapi, dan garansi resmi yang membuat konsumen tenang. Di atas kertas, motor konversi eceran memang akan selalu kedodoran jika dibandingkan langsung dengan produk pabrikan massal.

Belajar dari China: Konversi sebagai Strategi Industri

Sejarah otomotif dunia justru menunjukkan bahwa konversi bisa menjadi langkah awal yang krusial. Pada awal 2000-an, China tidak langsung membangun megapabrik kendaraan listrik. Mereka memulai dari strategi konversi masif di tingkat industri dasar. Produsen China memanfaatkan sasis dan frame motor bensin 2-tak 50cc yang sudah mereka kuasai jalur produksinya dalam skala jutaan unit.

Rangka-rangka itu kemudian dimodifikasi secara massal di jalur perakitan pabrik untuk dipasangi dinamo penggerak listrik dan baterai timbal-asam sederhana. Mereka tidak memulai dari lembar kosong, melainkan mengonversi fasilitas manufaktur, rantai pasok lokal, dan infrastruktur teknik yang sudah matang. Langkah pragmatis inilah yang menjadi motor penggerak pertumbuhan industri komponen lokal China, sebelum akhirnya mendominasi pasar global.

Jembatan ATM Menuju Kedaulatan Manufaktur

Berkaca dari pengalaman China, urgensi redefinisi program konversi di Indonesia menjadi semakin jelas. Jika kita bersikeras menganggap motor konversi sebagai produk konsumsi individual yang diadu di diler, kita sudah kalah sejak awal. Nilai krusial konversi bukan terletak pada berapa banyak unit yang diubah di bengkel jalanan, melainkan pada bagaimana kita memanfaatkan dan menyelamatkan aset kapasitas manufaktur yang sudah ada.

Konversi pada level industri adalah jembatan menuju metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) seperti yang diaplikasikan China dua dekade lalu. Strategi ini memungkinkan pabrikan lokal bertransisi tanpa harus membangun pabrik baru dari nol. Dari sana, industri baterai, controller, dan motor penggerak domestik bisa tumbuh subur sebelum akhirnya mampu bersaing di pasar global.

Menggeser Parameter Keberhasilan

Sudah saatnya parameter keberhasilan program konversi digeser secara radikal. Bukan lagi soal jumlah unit yang dikonversi di bengkel eceran, melainkan seberapa banyak lini produksi pabrikan yang berhasil bertransisi ke era setrum. Pemerintah perlu mendorong konversi di tingkat pabrik, bukan sekadar di bengkel pinggir jalan.

Tanpa perubahan paradigma ini, program konversi hanya akan menjadi proyek sampingan yang berjalan tertatih-tatih. Padahal, potensinya sebagai jembatan menuju kedaulatan manufaktur nasional sangat nyata—asalkan kita mau belajar dari sejarah dan berani meredefinisi tujuan dari awal.

Bagikan
Sumber: kompasiana.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks