LUBUK BASUNG — Produksi padi pada triwulan pertama 2026 mencapai 36.527,77 ton, sementara triwulan kedua melonjak menjadi 41.084,34 ton. Lonjakan tertinggi terjadi pada Juni dengan produksi 16.286 ton dari luas panen 3.641 hektare, disusul Mei yang mencatat 14.087 ton dari 2.968 hektare.
Bulan dengan Produksi Padi Tertinggi
Data Dinas Pertanian Agam menunjukkan produksi padi per bulan bervariasi. Pada Januari tercatat 11.084 ton (luas panen 2.083 hektare), Februari 13.744 ton (2.591 hektare), dan Maret 11.736 ton (2.212 hektare). Sementara itu, April menjadi bulan dengan produksi terendah, yakni 9.711 ton dari 1.832 hektare.
Prioritas Benih dan Target Peningkatan
Heri Prasetyo Wibowo menyebutkan, varietas padi yang dikembangkan petani di Agam antara lain IR 42, kuruik kusuik, dan benang pulau. Pemerintah daerah mendorong petani menggunakan benih dari hasil penangkaran lokal agar lebih tahan terhadap hama wereng.
"Dengan upaya tersebut, saya optimistis produksi padi akan meningkat nantinya," kata Heri di Lubuk Basung, Kamis.
Rehabilitasi Lahan dan Irigasi Pascabencana
Untuk menjaga produktivitas, Pemkab Agam melakukan rehabilitasi lahan pertanian seluas 311 hektare yang telah selesai dikerjakan. Saat ini, 180 hektare lahan sawah lainnya masih dalam proses pengusulan ke Kementerian Pertanian RI.
Selain itu, sebanyak 24 titik irigasi yang rusak akibat bencana hidrometeorologi tengah diperbaiki. Dinas Pertanian juga menggencarkan program Sawah Pokok Murah (SPM) sebagai teknologi terapan bagi petani, serta memastikan distribusi pupuk tepat sasaran.
Perbandingan dengan Produksi 2025
Sepanjang tahun 2025, produksi padi di Agam tercatat sebesar 138.438,46 ton dengan luas panen 28.951,06 hektare. Capaian enam bulan pertama 2026 yang sudah mencapai 77.612 ton menunjukkan tren positif, mengingat masih ada sisa setengah tahun untuk mengejar target tahunan.