LUBUK BASUNG — Sebanyak 180 hektare sawah di Kabupaten Agam yang hancur diterjang banjir bandang akhir tahun lalu diusulkan untuk direhabilitasi pada 2026. Kepala Dinas Pertanian Agam, Heri Prasetyo Wibowo, menyebut lahan tersebut berada di Kecamatan Malalak dan Palembayan.
“Lahan yang kita usulkan merupakan daerah terdampak bencana banjir bandang melanda daerah itu pada akhir November 2025,” kata Heri di Lubuk Basung, Rabu.
Lahan Tersisa yang Belum Tersentuh Rehabilitasi
Lahan seluas 180 hektare itu merupakan sisa dari total area terdampak yang belum sempat diperbaiki. Kendala utamanya, kata Heri, akses jalan menuju lokasi yang masih sulit dilalui.
Sebelumnya, Pemkab Agam telah mendapatkan alokasi rehabilitasi sawah seluas 311 hektare dari pemerintah pusat. Progres perbaikannya disebut sudah mencapai 100 persen, dan 80 persen di antaranya sudah mulai ditanami kembali.
Swakelola Melibatkan 20 Kelompok Tani
Proses rehabilitasi tahap pertama dikerjakan secara swakelola dengan melibatkan 20 kelompok tani. Program ini merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan lahan persawahan yang terdampak bencana hidrometeorologi.
“Ini merupakan komitmen dari kita untuk segera menyelesaikan seluruh proses perbaikan dan pemulihan lahan sawah, sebagai bagian dari upaya menjaga ekonomi masyarakat dan memantapkan ketahanan pangan,” ujar Heri.
Optimalisasi Lahan dan Perbaikan Irigasi
Selain rehabilitasi, Pemkab Agam juga menjalankan program optimalisasi lahan yang difokuskan pada perbaikan infrastruktur pendukung. Dana sebesar Rp2,5 miliar dialokasikan untuk 27 titik irigasi perpompaan, irigasi tersier, dan dam parit.
Lokasi perbaikan irigasi tersebut tersebar di enam kecamatan: Palembayan, Tanjung Raya, Matur, Canduang, Baso, dan Malalak. Heri menambahkan, kegiatan irigasi perpipaan ini diprioritaskan untuk area persawahan yang terdampak banjir bandang November lalu.