AGAM — Sisa pangan, sayuran hasil sortasi, dan hasil samping pertanian di kawasan Banuhampu, Sungai Pua, dan IV Koto selama ini kerap berakhir sebagai sampah. Padahal sebagian material organik itu berpotensi diolah menjadi sumber daya baru yang memberi nilai tambah bagi warga sekitar.
Kajian awal mencermati keterkaitan kawasan itu dengan aktivitas pertanian sayuran, perdagangan hasil pertanian, dan budidaya ikan air tawar. Pasar Padang Lua di Agam serta Pasar Banto dan Pasar Aur Kuning di Bukittinggi menjadi bagian jaringan perdagangan yang ditelusuri untuk memetakan potensi sisa sayuran.
Jenis Sayuran yang Teridentifikasi Jadi Sisa Sortasi
Pengamatan awal menemukan sawi, wortel, kol, kembang kol, bawang perai atau daun bawang, seledri, tomat, dan cabai sebagai jenis sayuran yang muncul sebagai sampah atau sisa sortasi. Sebagian material itu dikaji sebagai bahan baku alternatif pakan ikan.
Kedekatan sumber bahan baku dengan lingkungan pesantren dan kegiatan budidaya ikan nila maupun ikan mas disebut membuka peluang membangun hubungan produksi yang lebih terintegrasi. Pesantren Sumatera Thawalib Parabek di Banuhampu menjadi salah satu lokasi yang layak dikaji untuk pengembangan gagasan tersebut.
Pesantren sebagai Penghubung Pendidikan dan Usaha Produktif
Selama ini pesantren dikenal sebagai pusat pendidikan agama, pembentukan karakter, dan dakwah. Perannya dapat diperluas melalui kegiatan produktif yang menghubungkan pendidikan, inovasi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Jika hasil pengujian menunjukkan bahan tersebut layak dimanfaatkan, pesantren dapat membangun kemitraan dengan petani, pedagang pasar, dan pembudidaya ikan. Petani serta pedagang berperan sebagai mitra penyedia bahan baku, sementara pembudidaya ikan berpartisipasi dalam pengujian pakan dan pengembangan pasar.
Bukan Solusi Instan: Pengujian Jadi Tahap Wajib
Peluang tersebut tidak serta-merta dianggap sebagai solusi yang siap diterapkan. Tidak semua sisa sayuran layak dijadikan pakan ikan. Bahan baku harus dipilah dan diolah secara tepat, lalu diuji untuk memastikan keamanan, kandungan nutrisi, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan ikan.
Ketersediaan bahan baku, kontinuitas pasokan, biaya pengumpulan, dan kelayakan produksi juga harus diperhitungkan. Tanpa pengujian memadai, pemanfaatan limbah sayuran berisiko tidak memberikan hasil sesuai harapan.
Karena itu, penelitian dan uji kelayakan perlu menjadi tahap awal sebelum gagasan ini dikembangkan menjadi kegiatan usaha. Pemetaan sumber sampah disebut menjadi dasar penting agar program yang dirancang benar-benar memberikan manfaat.
Wisata Edukasi dan Pengurangan Sampah Organik
Potensi ekonomi dari model ini dapat dikembangkan melalui wisata edukasi. Pengolahan bahan baku, produksi pakan, dan budidaya ikan bisa menjadi sarana pembelajaran mengenai lingkungan, pemanfaatan sumber daya, serta kewirausahaan bagi anak sekolah dan khalayak luas.
Bagi Bukittinggi dan Agam, pendekatan ekonomi sirkular berbasis pesantren menjadi salah satu alternatif pendukung pengelolaan sampah. Sampah organik yang telah dipilah berpotensi dimanfaatkan kembali melalui kegiatan produktif, bukan sekadar dikumpulkan, diangkut, dan dibuang.
Meski demikian, pendekatan ini tidak dapat menggantikan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Pengembangannya harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah, ketersediaan bahan baku, kemampuan pengolahan, dan kebutuhan masyarakat setempat.