PADANG PARIAMAN — Tim terpadu yang diminta Vasko melibatkan BMKG, Dinas Lingkungan Hidup, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, serta instansi terkait lainnya. Tim itu diharapkan menjalankan pemantauan berkala dan memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk menyiapkan kesiapan menghadapi dampak kabut asap terhadap kesehatan warga.
Dalam kunjungan ke Stasiun Meteorologi Minangkabau, Vasko meninjau informasi kualitas udara, pergerakan angin, dan sebaran titik panas melalui dasbor BMKG. Dari pantauan itu, tidak ditemukan titik api di wilayah Sumatera Barat.
Asap Kiriman dari Sumatera Selatan dan Jambi
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukittinggi Sugeng Nugroho menjelaskan, pemantauan menunjukkan banyak titik api terdeteksi di Sumatera Selatan dan Jambi. Pergerakan angin membawa asap dari kawasan tersebut ke sejumlah wilayah di bagian selatan Pulau Sumatera, termasuk Sumbar.
Kondisi itu membuat kualitas udara di Sumbar masih terganggu sejak 15 Oktober 2026 hingga kunjungan berlangsung pada Senin (19/10/2026).
"Sumatera Barat termasuk daerah yang berada di kawasan tersebut. Sehingga sejak 15 Oktober lalu hingga sekarang, kualitas udaranya masih parah," ujar Sugeng.
Dharmasraya, Sijunjung, dan Solok Selatan Masuk Pantauan Khusus
Meski tidak menemukan titik api berdasarkan dasbor BMKG, Vasko meminta kewaspadaan tetap ditingkatkan. Sejumlah daerah di Sumbar memiliki riwayat kebakaran lahan yang perlu menjadi perhatian, yakni Kabupaten Dharmasraya, Sijunjung, dan Solok Selatan.
Pemerintah daerah dan instansi terkait diminta meningkatkan pengawasan terhadap potensi kebakaran di wilayah tersebut. Perhatian khusus diberikan pada temuan Bupati Dharmasraya mengenai lahan bekas terbakar yang kemudian ditanami kelapa sawit.
Vasko meminta Dinas Kehutanan Sumbar segera berkoordinasi dengan kepolisian untuk menelusuri temuan itu. Penanganan diperlukan guna memastikan penyebab kebakaran sekaligus memeriksa kemungkinan adanya unsur kesengajaan.
"Dinas Kehutanan saya minta segera berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk menindaklanjuti temuan Bupati Dharmasraya mengenai lahan bekas terbakar ditanami sawit. Jangan-jangan ada oknum yang sengaja bermain di sini," tegasnya.
Waspadai Hujan November–Desember, Potensi Bencana Tetap Ada
Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau Decky Irmawan mengingatkan pentingnya memantau perkembangan cuaca secara berkala menjelang November–Desember 2026. Perubahan pola atmosfer dan angin muson akan memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai wilayah.
Menurut Decky, meningkatnya curah hujan tidak otomatis menghilangkan seluruh potensi kebakaran. Hujan berintensitas tinggi juga dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Kondisi itu membuat kesiapsiagaan perlu diarahkan pada dua potensi sekaligus, yakni kebakaran lahan dan bencana akibat cuaca ekstrem. Penanganan dipusatkan pada tiga prioritas: mencegah kebakaran, mempercepat respons terhadap kebakaran dan penurunan kualitas udara, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana cuaca ekstrem.