AGAM — Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, memimpin langsung apel siaga yang berlangsung di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh. Sebanyak 12 Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dari 11 kabupaten dan kota dikerahkan dalam kegiatan tersebut.
Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang
Berdasarkan analisis BMKG yang disampaikan dalam apel, musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih awal dan berlangsung lebih lama. Indikasi peralihan menuju fenomena El Nino disebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran pada periode Juni hingga September.
Gubernur menegaskan bahwa karhutla merupakan ancaman serius dengan dampak luas. Tidak hanya merusak lingkungan, kebakaran juga mengganggu kesehatan masyarakat serta menimbulkan kerugian ekonomi dan citra daerah.
Faktor Manusia Masih Jadi Penyebab Utama
Dalam sambutannya, Mahyeldi menyoroti bahwa faktor manusia masih menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran. Beberapa di antaranya adalah pembukaan lahan dengan cara dibakar, kelalaian, aktivitas penebangan liar, hingga konflik lahan.
"Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara terpisah. Diperlukan kerja sama yang kuat, koordinasi yang solid, serta komitmen dari seluruh pihak agar pencegahan dapat dilakukan sejak dini," ujarnya.
Tiga Kabupaten Sempat Tanggap Darurat
Data tahun 2025 mencatat, beberapa daerah bahkan sempat menetapkan status tanggap darurat akibat meningkatnya kejadian karhutla. Daerah tersebut adalah Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Solok, dan Kabupaten Agam.
Menghadapi hal itu, gubernur menekankan pentingnya langkah pencegahan melalui deteksi dini titik panas, patroli rutin, serta edukasi masyarakat secara berkelanjutan. Penanganan, menurutnya, harus dilakukan secara cepat dan terpadu tanpa menunggu api meluas.
Simbol Penanaman Pohon dan Monumen Nagari Peduli Hutan
Usai apel siaga, gubernur melakukan penanaman pohon manggis sebagai simbol komitmen pelestarian lingkungan. Ia juga meresmikan peletakan batu pertama pembangunan Monumen Nagari Peduli Hutan di lokasi yang sama.
Mahyeldi mengajak berbagai elemen masyarakat—seperti Ninik Mamak, Cadiak Pandai, Alim Ulama, Bundo Kanduang, lembaga pengelola perhutanan sosial, serta kelompok masyarakat peduli api—untuk berperan aktif menjaga kelestarian lingkungan dan menghindari praktik pembakaran lahan.
Ia berharap kejadian karhutla pada tahun sebelumnya tidak terulang kembali. Menurutnya, menjaga hutan dan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama demi keberlanjutan generasi mendatang.