SIMPAK EMPAT — Pelaksana tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pasaman Barat, Afkar, mengakui pihaknya masih kewalahan mengangkut sampah akibat keterbatasan armada. Dari total 70 hingga 80 ton sampah yang dihasilkan setiap hari di kawasan Simpang Empat, Simpang Tigo, Luhak Nan Duo, dan daerah sekitarnya, hanya 50 ton yang berhasil dibawa ke TPA. Sisanya, puluhan ton sampah setiap hari, terpaksa menumpuk atau tidak terangkut maksimal.
Armada Baru untuk Menutup Defisit Pengangkutan
Proses pengadaan armada baru saat ini tengah berjalan. Pemerintah daerah menganggarkan pembelian tiga unit truk, sembilan unit becak motor, dan sembilan unit kontainer. “Kita kekurangan armada sampah. Saat ini hanya dua truk, tujuh becak dan dua unit pick up,” ujar Afkar di Simpang Empat, Rabu.
Dengan tambahan armada ini, kapasitas angkut harian diharapkan bisa mendekati volume sampah yang dihasilkan masyarakat. Selain menambah armada, Pemkab juga telah menyediakan satu tempat pembuangan sampah di Simpang Tigo dan berencana menambah fasilitas serupa di Simpang Empat. Tong-tong sampah juga telah disediakan di dekat kawasan perkantoran untuk memudahkan warga membuang sampah pada tempatnya.
Biaya Retribusi Sampah Mulai Januari 2026
Untuk menambah pendapatan daerah dari sektor persampahan, pemkab memberlakukan retribusi bagi rumah tangga sebesar Rp20 ribu per bulan dan sampah toko Rp50 ribu per bulan. Mulai Januari 2026, pembayaran retribusi akan langsung disetor ke rekening daerah. Ke depannya, sistem akan diubah menjadi berbasis aplikasi untuk menghilangkan praktik pemungutan langsung di lapangan.
Pada tahun 2025, pendapatan dari retribusi sampah mencapai Rp217 juta. “Kedepannya akan kita maksimalkan sambil melengkapi armada baru,” kata Afkar.
Gerakan Memilah Sampah: Organik dan Anorganik
Pemkab juga mendorong kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah. Afkar menjelaskan bahwa pemerintah pusat saat ini menggalakkan gerakan memilah sampah. Masyarakat diminta memisahkan sampah organik (yang mudah terurai) dan anorganik. Idealnya, hanya sampah anorganik yang dibawa ke TPA Muaro Kiawai.
Sosialisasi mengenai gerakan ini akan ditingkatkan ke depannya, termasuk himbauan agar warga tidak membuang sampah sembarangan yang dapat merusak lingkungan. Langkah ini menjadi kunci agar kebersihan lingkungan di Pasaman Barat bisa terjaga secara berkelanjutan, tidak hanya mengandalkan penambahan armada semata.
Berapa ton sampah yang tidak terangkut setiap hari di Pasaman Barat?
Dengan kapasitas angkut 50 ton per hari dari total produksi 70-80 ton, terdapat sekitar 20 hingga 30 ton sampah setiap hari yang tidak terangkut ke TPA Muaro Kiawai. Penambahan armada baru ditargetkan untuk menutup kesenjangan ini.
Kapan tarif retribusi sampah Rp20 ribu mulai berlaku?
Tarif retribusi untuk rumah tangga sebesar Rp20 ribu per bulan dan toko Rp50 ribu per bulan sudah berlaku. Namun, secara teknis, pembayaran langsung ke rekening daerah baru akan dimulai pada Januari 2026.
Di mana saja lokasi penumpukan sampah terparah di Pasaman Barat?
Lokasi dengan volume sampah terbesar berada di Simpang Empat, Kecamatan Pasaman, serta Simpang Tigo dan Luhak Nan Duo. Ketiga wilayah ini menjadi prioritas utama pengangkutan dengan armada baru.