PADANG PANJANG — Sepuluh peserta dari Aceh, Medan, Sumatera Barat, dan Jawa Timur kini menjalani proses belajar seni Randai secara langsung di bawah bimbingan Musra Dahrizal alias Mak Katik. Program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026 yang digelar Kementerian Kebudayaan ini berlangsung selama satu bulan penuh di kediaman sang maestro di Padang Panjang, Sumatera Barat.
Apa yang Dipelajari Selama 30 Hari di Sanggar Maestro?
Tidak sekadar teori, para peserta tinggal dan belajar 24 jam sehari bersama Mak Katik. Materi yang diajarkan mencakup perpaduan silat, sastra, musik, dan dendang yang menjadi inti dari seni Randai. "Program ini berfokus pada Randai yang di dalamnya terdapat perpaduan antara silat, sastra, musik, dan dendang. Untuk memperkuat pemahaman mengenai nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam budaya Minangkabau," kata Mak Katik.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan, Nurmatias Zakaria, menegaskan bahwa kesempatan belajar langsung dari maestro seperti ini sangat langka. "Tidak semua peserta beruntung bisa belajar langsung bersama maestro. Ini adalah kesempatan luar biasa bagi adik-adik untuk menggali ilmu selama 24 jam penuh setiap hari selama satu bulan," ujarnya, Kamis (16/7).
Randai: Warisan UNESCO yang Hidup di Tangan Generasi Muda
Fokus pada seni Randai di Padang Panjang memiliki bobot tersendiri. Pasalnya, kesenian khas Minangkabau ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh UNESCO pada tahun 2017. Selain teknik pertunjukan, para peserta diajak menyelami nilai dan cara pandang kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Mak Katik sendiri bukan sekadar seniman panggung. Ia adalah budayawan dan pengajar senior Minangkabau yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada pelestarian randai, sastra lisan, silek, pantun, dan falsafah adat Minangkabau.
Bukan Hanya Randai: Enam Maestro Lain di Berbagai Daerah
Program BBM 2026 tidak hanya berlangsung di Sumatera Barat. Secara serentak, pelepasan peserta dilakukan pada Rabu (15/7) di enam lokasi pembelajaran. Selain Mak Katid di Padang Panjang, terdapat Jatnika Nanggamiharja sebagai Maestro Kriya Bambu di Bogor, Jaja Miharja (Ayah Jaja) sebagai Maestro Lenong Betawi di DKI Jakarta, I Gusti Nengah Nurata sebagai Maestro Lukis di Surakarta, Sulistyo Tirtokusumo sebagai Maestro Tari Bedhaya di DKI Jakarta, serta Ahmad Tohari sebagai Maestro Sastra di Banyumas.
Peserta program ini didominasi mahasiswa seni dan budaya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Keberagaman latar belakang dan asal daerah—dari Pulau Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan—menjadi nilai tambah dalam proses pewarisan budaya antargenerasi.
Belajar Lewat Kehidupan Sehari-hari, Bukan Hanya Kelas
Kementerian Kebudayaan merancang BBM bukan sebagai kursus singkat, melainkan ruang hidup. "Selama 30 hari, peserta tidak hanya mempelajari teknik pertunjukan randai, tetapi juga menyelami nilai, filosofi, serta cara pandang kebudayaan yang diwariskan," kata Mak Katik. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat proses pewarisan pengetahuan dan nilai-nilai budaya secara lebih utuh, memastikan api pengetahuan para maestro terus menyala di tangan generasi penerus.