Pencarian

Akademisi Unand Temukan Pola Berbeda di Muara Batang Kuranji dan Batang Anai Usai Banjir November 2025

Jumat, 11 September 2026 • 09:37:02 WIB
Akademisi Unand Temukan Pola Berbeda di Muara Batang Kuranji dan Batang Anai Usai Banjir November 2025
Guru Besar Unand Prof Mas Mera memaparkan hasil pengamatan udara terhadap Muara Batang Kuranji dan Batang Anai pascabanjir November 2025.

Guru Besar Universitas Andalas Prof Mas Mera mengungkap perbedaan karakter muara Batang Kuranji di Kota Padang dan Batang Anai di Kabupaten Padang Pariaman pasca banjir besar November 2025. Perbedaan itu terlihat dari cara sedimen banjir terurai dan bertahan di masing-masing muara. Temuan ini jadi dasar usulan penanganan yang tidak bisa disamaratakan untuk seluruh sungai pesisir Sumatera Barat.

PADANG — Kepala Laboratorium Mekanika Fluida dan Hidrolika Teknik Sipil Universitas Andalas (Unand) Prof Mas Mera memaparkan hasil pengamatan udara terhadap dua muara sungai besar di Sumatera Barat. Pengamatan dilakukan menggunakan drone pada 8 dan 25 Agustus 2026 untuk Batang Kuranji, serta 28 Juli dan 26 Agustus 2026 untuk Batang Anai.

Kedua sungai dilanda banjir besar pada November 2025. Material yang terbawa banjir meninggalkan jejak berbeda di masing-masing muara.

Mengapa Muara Batang Kuranji dan Batang Anai Berbeda?

Di Muara Batang Kuranji, daratan masif yang semula menyatu telah terurai dan terfragmentasi oleh gelombang laut. Endapan itu berubah menjadi gugusan pulau pasir serta beting pasir yang tersebar di tepi laut dan mulut sungai.

"Pascabencana saya melihat perkembangan yang berbeda pada kedua muara. Material yang terbawa banjir mengalami proses dan membentuk pola yang tidak sama antara kedua sungai tersebut," kata Mas Mera di Padang, Kamis.

Aliran Batang Kuranji masih punya kapasitas pembilasan alami yang efektif. Kondisi ini muncul terutama saat debit puncak banjir bertepatan dengan fase pasang surut air laut atau ebb tide.

Karena itu, sedimen dasar terdorong ke laut lepas. Mas Mera menilai penanganan di kawasan ini sebaiknya diarahkan pada pembersihan muara dan pembangunan jetty pelindung, bukan pengerukan mekanis di badan sungai utama bagian hilir.

Sedimen Batang Anai Bertahan dan Membentuk Tanjung Pasir

Kondisi berbeda terjadi di Muara Batang Anai yang berada dekat Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Rekaman drone menunjukkan sisa sedimen banjir tidak terurai menjadi pulau-pulau pasir.

Material itu bertahan dan membentuk tanjung atau sand spit di sisi kanan atau utara muara, melengkung ke arah kiri.

"Berbeda dengan kondisi di Batang Kuranji, endapan di Muara Batang Anai masih bertahan dan membentuk daratan pasir yang memanjang. Dari pengamatan yang kami lakukan, timbunan tersebut membentuk semacam tanjung pasir yang melengkung ke arah selatan muara," ujar Mas Mera.

Histori citra satelit Google Earth pada Juli 2025 menunjukkan pola alami transpor sedimen pantai di kawasan itu bergerak dari selatan ke utara. Pola tersebut ditandai beting pasir sepanjang 300 meter yang tumbuh dari sisi selatan muara menuju utara hingga menutupi sebagian mulut muara.

Setelah banjir 2025 hingga Agustus 2026, arah aliran air keruh dan sedimen Batang Anai berubah menuju selatan. Perubahan lokal ini dipengaruhi interaksi antara debit banjir sungai yang besar dan geometri sand spit baru yang mengubah pembelokan arah datang gelombang atau refraksi di depan muara.

Apa Implikasinya bagi Penataan Ruang Pesisir Sumbar?

Mas Mera menekankan perbedaan karakter hidro-sedimentologi kedua muara perlu jadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan penataan ruang dan rekayasa pantai di Sumbar. Penanganan sedimentasi tidak bisa memakai satu pendekatan yang sama untuk seluruh sungai pesisir.

Karakter gelombang, arah arus pantai, dan geometri muara berbeda di setiap lokasi. Perbedaan itu memengaruhi pola sedimentasi yang terbentuk.

Untuk Muara Batang Kuranji, penanganan dapat difokuskan pada kelancaran pembilasan menuju laut lepas melalui pembukaan ambang karang muara dan pembangunan jetty pelindung. Sementara di Muara Batang Anai, pembentukan sand spit dan perubahan arah arus pantai ke selatan perlu dipantau berkala.

Pemantauan itu penting agar tidak memicu erosi pantai atau abrasion, mengingat lokasinya berdekatan dengan infrastruktur vital yakni BIM.

Mas Mera menambahkan kajian terhadap kedua muara menunjukkan pentingnya integrasi ilmu hidrolika sungai dan rekayasa proses litoral pantai dalam perencanaan mitigasi bencana banjir serta penataan ruang pesisir di Sumbar.

Follow sumbaronline.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sumbar.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks