PADANG — Ancaman mikroplastik kini menyentuh langsung masyarakat Sumatera Barat. Berdasarkan penelitian Universitas Columbia dan Universitas Rutgers, setiap liter air kemasan mengandung sekitar 240.000 partikel plastik, yang sebagian besar merupakan nanoplastik berukuran kurang dari 1 mikrometer. Partikel ini berasal dari botol dan tutup plastik yang terlepas selama proses penyaringan, pengemasan, distribusi, hingga penyimpanan.
Dari Bola Biliar Hingga Polusi Global
Plastik pertama kali dikembangkan sebagai pengganti gading gajah untuk bola biliar pada 1860-an. Alexander Parkes dan John Wesley Hyatt menciptakan seluloid, disusul penemuan bakelite oleh Leo Baekeland pada 1907. Bahan sintetis ini dianggap penyelamat lingkungan karena mengurangi perburuan gading dan penebangan kayu.
Namun, setelah Perang Dunia II, produksi plastik meledak untuk kebutuhan sipil. Kini miliaran ton plastik telah diproduksi, dan sebagian besar masih berada di lingkungan. Di Sumatera Barat, sampah plastik yang terurai di sungai dan pesisir menjadi sumber utama mikroplastik yang masuk ke rantai makanan.
Bagaimana Mikroplastik Masuk ke Tubuh Manusia?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2022 menerbitkan hasil kajian yang menyebutkan manusia terpapar partikel plastik melalui makanan, air, dan udara. Mikroplastik dapat berasal dari serat pakaian sintetis, keausan ban kendaraan, hingga limbah rumah tangga dan industri. Partikel-partikel ini terbawa aliran air, meresap ke tanah, masuk ke sungai dan danau, lalu kembali ke sistem air minum.
Fakta yang lebih mengejutkan, mikroplastik juga ditemukan dalam air hujan. Artinya, partikel plastik tidak hanya bergerak melalui air permukaan, tetapi juga terbawa ke atmosfer dan kembali ke bumi bersama hujan. Siklus plastik kini menjadi bagian dari siklus air planet ini.
Nanoplastik: Ukuran Kecil, Bahaya Besar
Nanoplastik berukuran jauh lebih kecil dari diameter rambut manusia—mendekati ukuran komponen biologis dalam tubuh. Karena ukurannya yang sangat kecil, nanoplastik lebih mudah menembus penghalang biologis, masuk ke aliran darah, dan mencapai organ vital. Partikel ini juga dapat membawa zat kimia berbahaya yang menempel pada permukaannya.
Penelitian terbaru tahun 2024 dengan judul Microplastics and Nanoplastics in Ather menunjukkan bahwa polusi plastik telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Bagi Sumatera Barat, daerah dengan garis pantai panjang dan sungai-sungai besar, risiko pencemaran mikroplastik di perairan dan pesisir perlu menjadi perhatian serius.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memperkuat pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan industri, serta mendorong kebijakan daerah seperti larangan kantong plastik di pasar tradisional menjadi langkah konkret. Beberapa kota di Indonesia telah menerapkan aturan serupa. Di Sumatera Barat, kesadaran masyarakat dan dukungan pemda masih perlu ditingkatkan untuk memutus siklus plastik yang sudah menyebar ke udara dan air.