Monumen peringatan banjir bandang (galodo) November 2025 di kawasan Jembatan Kembar, Padang Panjang, Sumatera Barat, memasuki tahap penyelesaian dan mulai ramai didatangi warga serta keluarga korban. Bangunan yang memuat ukiran nama-nama korban ini dibangun menggunakan bebatuan bekas longsoran dari lokasi bencana.
PADANG PANJANG — Luka mendalam yang ditinggalkan bencana banjir bandang November 2025 di Kota Padang Panjang mulai menemukan ruang untuk dikenang. Sebuah monumen yang berdiri di kawasan Jembatan Kembar telah memasuki tahap akhir pengerjaan, dan sejak beberapa pekan terakhir, warga serta keluarga korban mulai berdatangan untuk melihat langsung perkembangan bangunan peringatan tersebut, Minggu (30/8/2026).
Kehadiran monumen ini menjadi penanda bahwa peristiwa yang merenggut banyak korban itu tidak akan dilupakan. Material utamanya bukan granit atau marmer impor, melainkan bebatuan asli yang terseret longsoran saat bencana terjadi—menjadikannya saksi bisu sekaligus bagian dari lokasi itu sendiri.
Bebatuan Longsoran Jadi Bagian dari Proses Memulihkan Ingatan
Penggunaan bebatuan bekas longsoran pada struktur monumen memberikan dimensi berbeda. Setiap batu yang tersusun di bangunan tersebut bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi nyata dari kekuatan alam yang pernah menghantam kota itu.
Di bagian utama monumen, terdapat ukiran nama-nama korban yang menjadi pusat perhatian pengunjung. Banyak keluarga yang datang khusus untuk mencari nama sanak saudaranya yang tertulis di bebatuan tersebut, seolah menemukan cara baru untuk mendekatkan diri pada almarhum.
Peringatan Setahun Bencana Jadi Target Peresmian
Rencananya, monumen ini akan diresmikan bertepatan dengan peringatan setahun bencana banjir bandang yang terjadi pada November 2025. Penetapan waktu tersebut bukan tanpa makna—momen berkumpulnya warga, pemerintah, dan keluarga korban dalam satu titik akan menjadi puncak proses pemulihan emosional yang panjang.
Hingga kini, pihak pengelola masih melakukan penyempurnaan pada sejumlah bagian bangunan. Meski belum resmi dibuka, antusiasme warga yang lebih dulu berkunjung menunjukkan bahwa keberadaan monumen ini dinantikan sebagai ruang refleksi bersama.
Luka yang Dikenang, Bukan untuk Disesali
Banjir bandang yang melanda Padang Panjang pada akhir 2025 itu meninggalkan jejak kerusakan yang luas dan duka yang mendalam bagi para penyintas. Kehadiran monumen di Jembatan Kembar diharapkan menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana serupa di masa depan.
Lebih jauh lagi, bangunan ini juga menjadi bukti bahwa masyarakat mampu bangkit dan mengubah pengalaman traumatis menjadi sesuatu yang bermakna—sebuah ruang untuk mengenang, belajar, dan memperkuat ikatan kebersamaan warga Padang Panjang.