Pencarian

Teater Bala Bhumi di Padang Angkat Kerusakan Alam, Komunitas Seni Hitam Putih Tampilkan Perpaduan Modern dan Tradisi Minangkabau

Senin, 07 September 2026 • 18:41:02 WIB
Teater Bala Bhumi di Padang Angkat Kerusakan Alam, Komunitas Seni Hitam Putih Tampilkan Perpaduan Modern dan Tradisi Minangkabau
Komunitas Seni Hitam Putih mementaskan teater kontemporer Bala Bhumi di Taman Budaya Sumatera Barat, Padang, Rabu (2/9/2026).

Komunitas Seni Hitam Putih mementaskan teater kontemporer berjudul Bala Bhumi di Taman Budaya Sumatera Barat, Padang, Rabu (2/9/2026). Pertunjukan yang disutradarai Afrizal Harun ini mengangkat persoalan eksploitasi alam dan keserakahan manusia.

PADANG — Taman Budaya Sumatera Barat menjadi saksi pementasan teater kontemporer yang mengusung tema kerusakan ekologis. Komunitas Seni Hitam Putih tampil membawakan lakon Bala Bhumi, sebuah karya yang lahir dari kegelisahan atas eksploitasi alam yang kian masif.

Pementasan berlangsung Rabu (2/9/2026) dengan melibatkan para pelakon yang menirukan gaya hewan sebagai bagian dari ekspresi artistik. Mereka bergerak di atas panggung, menghadirkan simbol-simbol perlawanan terhadap keserakahan manusia.

Perpaduan Teater Modern dan Filosofi Minangkabau

Bala Bhumi bukan sekadar pertunjukan biasa. Afrizal Harun, sutradara sekaligus penulis naskah, meraciknya dengan dramaturgi teater pascadramatik yang memadukan unsur modern dengan tradisi lokal.

Filosofi Minangkabau menjadi fondasi penting dalam setiap adegan. Nilai-nilai kearifan lokal tentang menjaga alam disisipkan di tengah sajian kontemporer yang eksperimental.

Para pelakon tidak sekadar berdialog. Gerak tubuh, ekspresi wajah, dan tata panggung bekerja bersama membangun narasi tentang bencana ekologis yang lahir dari ulah manusia.

Eksploitasi Alam dan Keserakahan Jadi Tema Utama

Persoalan eksploitasi alam diangkat secara gamblang melalui metafora gerak dan visual. Penonton diajak merenungkan bagaimana sumber daya alam dikuras tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.

Kerusakan ekologis yang terjadi di berbagai wilayah menjadi latar yang memperkuat pesan pertunjukan. Keserakahan manusia digambarkan sebagai akar persoalan yang memicu ketidakseimbangan alam.

Pertunjukan ini menjadi ruang refleksi publik di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Lewat bahasa seni, pesan tentang krisis alam disampaikan dengan cara yang berbeda dari laporan berita atau diskusi formal.

Teater Sebagai Medium Kritik Sosial

Pementasan Bala Bhumi menegaskan posisi teater sebagai medium kritik sosial yang relevan. Komunitas Seni Hitam Putih memanfaatkan panggung untuk menyuarakan keprihatinan atas kondisi alam yang semakin terdesak oleh kepentingan ekonomi.

Taman Budaya Sumatera Barat yang menjadi lokasi pentas memberikan nuansa tersendiri bagi jalannya pertunjukan. Ruang publik ini kerap menjadi tempat bergulirnya berbagai kegiatan kesenian dan kebudayaan di ibu kota provinsi tersebut.

Dengan pendekatan pascadramatik, penonton tidak disuguhi alur cerita konvensional. Mereka justru diajak merasakan pengalaman estetik yang menuntut kepekaan terhadap simbol dan metafora yang ditampilkan di atas panggung.

Pertunjukan semacam ini menjadi penting di tengah derasnya arus hiburan yang cenderung pragmatis. Teater kontemporer menawarkan ruang perenungan yang jarang ditemukan dalam tontonan arus utama.

Follow sumbaronline.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sumbar.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks