Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, memperpanjang masa tanggap darurat banjir bandang Arosuka hingga 12 Oktober 2026, dari sebelumnya berakhir 5 Oktober. Perpanjangan diambil karena penanganan dampak bencana yang menerjang Nagari Batang Barus dan Koto Gaek Guguk, Kecamatan Gunung Talang, itu masih berjalan. Sebanyak 513 warga tercatat terdampak dan mengungsi akibat banjir yang dipicu hujan berintensitas tinggi pada 21 September 2026.
SOLOK — Status tanggap darurat banjir bandang Arosuka resmi diperpanjang melalui Keputusan Bupati Solok Nomor 300.2-265-2026. Perpanjangan berlaku sampai 12 Oktober 2026, tujuh hari lebih lama dari periode awal 22 September hingga 5 Oktober. Kebijakan diambil untuk memastikan penanganan dan kesiapsiagaan di wilayah terdampak tetap berjalan.
Bencana dipicu hujan berintensitas tinggi yang memicu longsoran di kawasan hulu Sungai Batang Laso. Material lumpur, batu, dan kayu terbawa hingga Kompleks Perkantoran Pemkab Solok serta permukiman warga di Nagari Batang Barus dan Koto Gaek Guguk.
Dua Korban Jiwa Ditemukan Terpisah Empat Hari
Dua orang meninggal dunia dalam peristiwa ini. Daffi Arahman (21) ditemukan pada 22 September, sedangkan Agusra (59) baru ditemukan pada 25 September. Sejumlah warga juga mengalami luka, termasuk Muhammad Nur Zen (56) dan Affan Alqadri (26) yang harus dirujuk ke rumah sakit di Padang untuk perawatan intensif.
Dari 513 warga terdampak, 10 orang mengungsi di Rumah Pabrik Tahu dan 15 orang di Petshop. Sisanya, 488 warga, memilih mengungsi secara mandiri. Pemerintah memenuhi kebutuhan dasar berupa tempat tinggal sementara, makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan perlindungan bagi kelompok rentan.
Alat Berat dari Tiga Instansi Dikerahkan Bersihkan Material
Pembersihan kawasan terdampak diperkuat alat berat dari BPBPK, BPJN, BWSS V, DPUPR, BNPB, TNI, dan pihak swasta. BWSS V mengerahkan 12 excavator besar dan dua excavator breaker. BPBPK menurunkan dua excavator besar, satu excavator kecil, delapan dump truck, dan satu excavator breaker.
Penanganan dilakukan terpadu melibatkan BPBD, Basarnas, TNI, Polri, tenaga kesehatan, PMI, dan pemerintah daerah. BPBD menangani pencarian, evakuasi, pembersihan rumah dan kantor, distribusi logistik, kaji cepat, pendataan, serta pengoperasian posko. Dinas Kesehatan menangani korban luka, Dinas Sosial mengoperasikan dapur umum, dan Dinas Lingkungan Hidup mengoordinasikan pembersihan material.
42 Hektare Sawah hingga 5 Ruas Jalan Rusak
Kerusakan infrastruktur cukup luas. Gedung Sekretariat DPRD, Dinas Pariwisata, Dinas PUPR, DPMN, dan Pos Jaga Satpol PP dilaporkan rusak berat. Sejumlah kantor lain mengalami kerusakan ringan dan sedang. Pelayanan pemerintahan tetap berjalan di tengah keterbatasan fasilitas.
Dampak terhadap permukiman meliputi 19 rumah rusak berat, sembilan rusak sedang, 33 rusak ringan, 13 rumah terendam, dan 10 rumah dalam kondisi rawan. Bencana juga merusak sekitar 42 hektare sawah, 15 hektare lahan kering, lima ruas jalan, dan dua jembatan. Tujuh kendaraan roda empat dan dua kendaraan roda dua turut terdampak.
Badan Geologi Dorong Sabo Dam dan Peringatan Dini Terpadu
Badan Geologi Kementerian ESDM pada 5 Oktober 2026 mendorong pembangunan sistem peringatan dini terpadu dan sabo dam untuk mengurangi risiko banjir bandang susulan. Kompleks perkantoran Pemkab Solok direkomendasikan dievaluasi dari aspek keamanan dan kemungkinan relokasi bertahap. Evaluasi dilakukan apabila hasil kajian menunjukkan kawasan tersebut berada di jalur aliran utama atau zona pengendapan material.
Masjid Kayu Aro telah dibersihkan dan dapat kembali digunakan. Tim gabungan diarahkan memperhatikan kondisi sungai yang berpotensi menjadi sumber ancaman berikutnya.
Kunjungan Wapres hingga Bantuan BNPB
Dukungan pemerintah pusat dan provinsi mengalir ke lokasi. Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Menko PMK bersama Kepala BNPB, serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming berkunjung pada 25 September. BNPB menyalurkan bantuan berupa beras, sembako, minyak goreng, sarden, selimut, dan air mineral, disertai pendampingan asesmen, operasi darurat, posko, dan konsolidasi data.
Pekerjaan panjang masih menanti Pemkab Solok. Pemulihan rumah warga, fasilitas publik, jalan, jembatan, dan lahan produktif harus diselesaikan bersamaan dengan penguatan mitigasi. Tujuannya agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman bencana berikutnya.