PADANG — Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Yoice Yuliani menyatakan lahan pertanian yang terdampak memerlukan penanganan dan rehabilitasi agar bisa kembali digunakan untuk bercocok tanam. Sawah di kawasan Guo bukan pertama kali diterjang material banjir.
Banjir pada 3 Agustus 2026 sempat menimbun sekitar 30 hektare sawah di kawasan yang sama. Sebelumnya, pemerintah telah merehabilitasi 102 hektare lahan pertanian menggunakan bantuan APBN hingga kembali produktif dan bisa dipanen petani.
Dua Kali Tertimbun dalam Tiga Bulan
Bencana terbaru memperpanjang daftar kerusakan di kawasan pertanian yang baru saja pulih. Yoice menyebut pihaknya akan melaporkan kondisi tersebut ke Kementerian Pertanian untuk mengupayakan dukungan anggaran tambahan.
Penanganan difokuskan pada lahan yang masih memungkinkan dipulihkan. Untuk sawah yang hanyut dan berubah menjadi aliran sungai, dinas belum melakukan tindakan lebih lanjut.
Dampak banjir tidak berhenti pada kerusakan fisik lahan. Frekuensi panen petani ikut menurun karena sawah tidak bisa digarap seperti biasa.
Rp2 Miliar Disalurkan untuk Peralihan Komoditas
Pemerintah Kota Padang menyiapkan anggaran sekitar Rp2 miliar untuk program peralihan komoditas pertanian. Dana tersebut telah disalurkan kepada petani guna membantu pengembangan tanaman alternatif selama persawahan belum pulih sepenuhnya.
Sejumlah petani kini membudidayakan kangkung, cabai, terung, dan jagung manis. Pengembangan komoditas alternatif diharapkan mempertahankan kegiatan pertanian sekaligus menjadi sumber penghasilan selama proses rehabilitasi sawah berlangsung.
Pemerintah kota berharap upaya pemulihan lahan dan diversifikasi tanaman dapat membantu petani menghadapi dampak bencana, sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian di wilayah terdampak.