SUMATERA BARAT — FIFA berulang kali mengklaim seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 telah habis terjual. Namun temuan BBC Sport justru menunjukkan gambaran sebaliknya: ribuan tiket untuk laga tim non-unggulan kini dijual di bawah harga wajah, baik di situs resmi FIFA maupun pasar sekunder.
Kondisi ini memicu spekulasi bahwa turnamen sepak bola terbesar sejagad itu berpotensi dihiasi bangku kosong. Kejadian serupa pernah terjadi pada Piala Dunia Antarklub 2025, di mana tiket dijual dengan harga diskon besar-besaran untuk memenuhi stadion.
Investigasi Harga dan Transparansi Tiket
Pekan lalu, jaksa agung New York dan New Jersey resmi memanggil FIFA untuk menjawab tuduhan "menaikkan harga secara artifisial" dan "menyesatkan penggemar". Proses pembelian tiket disebut seperti permainan, di mana penggemar tidak tahu berapa biaya sebenarnya untuk ikut serta.
Menurut panggilan pengadilan yang dikutip BBC, sejumlah penggemar yang berhasil membeli tiket dalam satu kategori harga justru menerima tiket dengan nilai lebih rendah—kursi lebih jauh dari lapangan. Bahkan pemenang undian tiket pun tidak pernah melihat struktur harga yang dipublikasikan FIFA. Angka harga yang astronomis baru terungkap saat penggemar diminta membayar.
FIFA Terapkan Harga Variabel, Bukan Dinamis
FIFA menggunakan sistem variable pricing, bukan dynamic pricing. Artinya harga berubah di setiap titik penjualan berdasarkan permintaan sebelumnya. Pada jendela penjualan terbuka terakhir yang dimulai April 2026, FIFA menyatakan lebih banyak tiket bisa dirilis hingga kick-off—tanpa menyebut pertandingan mana, kapan, dan di harga berapa.
Peta stadion juga diubah tanpa sepengetahuan pendukung. Kategori harga baru ditambahkan, biasanya untuk kursi baris depan yang harganya 50% lebih mahal dari kursi di belakangnya. Kursi-kursi ini tidak pernah tersedia bagi penggemar selama periode undian.
74.000 Tiket Tersedia, Hanya Dua Laga Tuan Rumah Sold Out
Data dari TicketData, situs independen pelacak acara olahraga besar di Amerika Serikat, menunjukkan hampir 74.000 tiket tersedia di 86 dari 104 pertandingan pada Sabtu lalu. Angka ini kemudian turun drastis menjadi sekitar 22.000 pada Selasa, dengan 66 pertandingan masih dijual.
FIFA seharusnya tidak kesulitan menjual tiket laga tim-tim besar seperti Argentina, Brasil, Inggris, Jerman, dan Spanyol. Namun dari sembilan pertandingan yang melibatkan tuan rumah—Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat—hanya dua yang benar-benar sold out. Bahkan laga pembuka Meksiko versus Afrika Selatan masih menyisakan lebih dari 500 kursi, masing-masing seharga $2.273.
Masalah utama FIFA justru pada pertandingan negara-negara tanpa daya tarik luas, seperti Bosnia-Herzegovina versus Qatar, Cape Verde melawan Arab Saudi, atau Kongo DR kontra Uzbekistan.
FIFA Diduga Buang Stok ke Situs Sekunder
FIFA gencar mendorong penggemar membeli tiket lewat situs resminya—yang mengambil komisi 15% dari pembeli dan penjual. Dalam laman FAQ, FIFA "sangat menganjurkan" pembelian melalui platform resmi dan memperingatkan tiket dari jalur lain "mungkin tidak valid dan dapat dibatalkan tanpa pemberitahuan."
Namun kejanggalan terjadi saat stok tiket di situs FIFA turun drastis. Ketersediaan di SeatGeek justru melonjak signifikan—bukan kursi acak, melainkan deretan kursi di blok-blok tertentu. Publik mencurigai FIFA tengah membuang stok yang tidak terjual ke pasar sekunder, praktik yang sebelumnya dikecam keras oleh badan sepak bola dunia itu sendiri.