Sistem Vampire bukan sekadar meriam atau peluncur rokok biasa. L3Harris mendeskripsikannya sebagai platform mandiri yang mampu menembak jatuh drone dan pesawat nirawak jarak jauh dengan amunisi berpandu laser. Sistem ini bisa dipasang di berbagai kendaraan, misalnya di bak truk, sehingga mobilitasnya tinggi di medan tempur.
Rudal Roket Laser Jadi Andalan
Komponen inti Vampire adalah Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS), yang merupakan roket Hydra 70 kaliber 70 mm dengan tambahan kemampuan homing laser. Roket ini kini menjadi pilihan "murah" untuk menembak jatuh drone—bahkan sudah dipasang di jet tempur Typhoon Inggris yang dikerahkan ke Timur Tengah.
Sistem ini bisa menjangkau target udara hingga enam kilometer. Selain itu, desain modularnya memungkinkan penambahan sensor, alat kendali radio, dan sistem pengincar lainnya dengan cepat.
Lahir dari Medan Perang Ukraina
Menurut L3Harris, Vampire dikembangkan pada awal perang di Ukraina sebagai solusi berbiaya rendah untuk melawan ancaman drone Rusia. Permintaan yang terus meningkat dari AS dan sekutu membuat perusahaan memacu produksi di lini perakitan baru di Huntsville, Alabama.
Sejak 2023, sistem ini telah mencatat lebih dari 350.000 jam operasional di kancah Eropa. "Kami bekerja dengan Angkatan Darat untuk memahami kebutuhan sistem anti-UxS yang bisa dirakit, dikirim, dipasang, dan ditembakkan dengan cepat," ujar Tom Kirkland, Presiden divisi Targeting & Sensor Systems L3Harris, dalam pernyataan resmi.
Pertahanan Berlapis Melawan Drone yang Kian Canggih
Kontrak ini merupakan bagian dari strategi pertahanan berlapis Angkatan Darat AS terhadap drone otonom dan kendaraan udara nirawak. Ancaman drone di medan perang modern—dari Ukraina hingga Timur Tengah—terbukti sulit dihadapi dengan sistem pertahanan udara konvensional yang mahal dan terbatas.
Vampire hadir sebagai lapisan pengisi: lebih murah dibanding rudal permukaan-ke-udara besar, tapi lebih presisi dibanding senjata api biasa. Sistem ini juga bisa diintegrasikan dengan platform lain melalui laser designator yang memungkinkan koordinasi tembakan secara terdistribusi.
Implikasi untuk Industri dan Pasar Asia
Meski belum ada konfirmasi ekspor ke Indonesia atau kawasan Asia Tenggara, tren pengadaan sistem anti-drone modular seperti Vampire patut dicermati. Banyak negara di kawasan mulai menghadapi ancaman drone komersial yang dimodifikasi untuk misi pengintaian atau serangan.
L3Harris sendiri belum merinci berapa unit yang akan diterima Angkatan Darat AS dari kontrak senilai 106 juta dolar tersebut. Yang jelas, dengan jam terbang operasional yang sudah mencapai ratusan ribu jam, Vampire bukan lagi sekadar prototipe—ia sudah teruji di medan laga Eropa.