Praktik bisnis nakal di industri telehealth AS kembali mencuat. Kali ini, layanan bernama FitRx—yang juga beroperasi dengan nama Zealthy, Inc.—dilaporkan secara sistematis membebani pasien dengan tagihan obat penurun berat badan GLP-1 yang tidak mereka minta. Laporan WIRED yang dirilis pekan ini mengungkapkan modus operandi yang terstruktur, membuat konsumen frustrasi dan kehilangan uang dalam jumlah besar.
Tagihan Misterius setelah Bayar Biaya Keanggotaan
Korban, yang kebanyakan adalah warga AS yang mencari alternatif murah untuk obat seperti Ozempic atau Zepbound, mengaku terjebak setelah mendaftar keanggotaan murah. Jurnalis WIRED yang terlibat langsung dalam investigasi ini mendaftar dengan biaya USD 135 untuk satu bulan suplai. Namun, tujuh jam kemudian, ia mendapati tagihan sebesar USD 866 untuk tiga bulan suplai tirzepatide—tanpa pernah dimintai konfirmasi atau persetujuan.
"Mereka mengirimkan obatnya segera setelah tagihan diproses, sehingga klaim pembatalan selalu ditolak dengan alasan 'kebijakan pengiriman sudah tercetak'," tulisnya. Upaya menghubungi layanan pelanggan hanya menemui jawaban berulang dari seorang staf yang hanya mau dipanggil "Ace".
Denda USD 5 Juta Tak Mengubah Perilaku
Yang membuat kasus ini semakin mencolok, Zealthy sebenarnya sudah pernah dihukum oleh pemerintah AS. Perusahaan ini terlibat dalam penyelesaian hukum senilai USD 5 juta dengan otoritas federal terkait praktik penagihan ilegal. Namun, laporan terbaru menunjukkan praktik serupa masih berlangsung.
Shane Albert, seorang pasien lain yang diwawancarai WIRED, menceritakan pengalaman serupa. Ia tertarik dengan iklan Zealthy di radio Atlanta yang menjanjikan harga tetap setiap bulan. "Ternyata itu omong kosong belaka," katanya. Tagihan bulan keduanya melonjak drastis, dan pengiriman obat terlambat berminggu-minggu. Albert kehilangan berat badan yang sudah turun karena jeda pengobatan yang tidak teratur.
Mekanisme Penipuan yang Terstruktur
Pola penipuan yang teridentifikasi cukup rapi. Pertama, konsumen didaftarkan dengan biaya rendah. Kedua, sistem otomatis langsung memproses resep dan pengiriman tanpa verifikasi manual. Ketiga, saat konsumen protes, perusahaan menolak pengembalian dana dengan alasan "privasi" dan "rantai pasok".
Korban yang mencoba membatalkan pesanan melalui kurir FedEx malah diberi tahu bahwa pengirim (FitRx/Zealthy) sebenarnya bisa menghentikan pengiriman kapan saja sebelum barang dikirim. Namun, perusahaan memilih untuk tidak melakukannya. Albert bahkan terpaksa mengganti kartu kreditnya karena sistem website Zealthy tidak mengizinkannya menghapus metode pembayaran.
Pelajaran untuk Pasar Indonesia
Meski kasus ini terjadi di Amerika Serikat, praktik serupa berpotensi muncul di Indonesia seiring maraknya layanan telehealth dan klinik online yang menawarkan obat-obatan resep. Regulator seperti BPOM dan Kementerian Kesehatan perlu mewaspadai modus penagihan otomatis tanpa persetujuan eksplisit konsumen.
Belum ada laporan resmi dari OJK atau BPOM terkait kasus serupa di dalam negeri. Namun, dengan proyeksi pertumbuhan pasar obat penurun berat badan online mencapai USD 150 miliar dalam lima tahun ke depan, pengawasan terhadap transparansi harga dan mekanisme pembatalan menjadi krusial.