SUMATERA BARAT — Italia akhirnya menembus batas psikologis elektrifikasi. Menurut data dari asosiasi Motus-E, sebanyak 14.721 unit BEV terdaftar pada Juni 2026 — melonjak 84,7 persen dibandingkan Juni 2025. Angka ini mendongkrak pangsa pasar dari 6 persen menjadi 10,1 persen, sekaligus membawa total populasi BEV di Italia menjadi 435.237 unit hingga akhir semester pertama 2026.
Subsidi Habis dalam Sehari, Dealer Berebut Registrasi
Pertumbuhan eksplosif ini bukan karena permintaan organik. Pemerintah Italia menggelontorkan paket subsidi kendaraan listrik yang mulai berlaku sejak Oktober 2025. Dana tersebut habis hanya dalam satu hari setelah portal pendaftaran dibuka.
Akibatnya, dealer berlomba menyelesaikan administrasi kendaraan sebelum tenggat 30 Juni untuk memastikan penggantian biaya dari negara. Para analis memperingatkan efek ini bersifat sementara. “Kami perlu mengamati data beberapa bulan ke depan untuk melihat apakah permintaan bertahan setelah insentif habis,” tulis laporan Motus-E.
Leapmotor Kejutan, Tesla di Posisi Kedua
Dari sisi merek, dua nama mendominasi 39 persen total registrasi BEV pada Juni 2026. Leapmotor — merek asal China yang mulai agresif di Eropa — secara mengejutkan memimpin dengan 3.366 unit atau 22,8 persen pangsa pasar. Tesla menyusul di posisi kedua dengan 2.423 unit, naik 42,8 persen year-on-year.
Dominasi Leapmotor menunjukkan konsumen Italia mulai terbuka terhadap pilihan mobil listrik dari pabrikan non-tradisional.
Italia Tertinggal Jauh dari Negara Eropa Lain
Meski mencatat rekor, Italia masih berada di posisi bawah dalam transisi elektrifikasi di kawasan Euro. Hingga Mei 2026, pangsa pasar BEV Italia baru mencapai 8,9 persen. Bandingkan dengan Prancis (29,2 persen), Inggris (27,4 persen), Jerman (25,1 persen), dan Spanyol (10,9 persen).
Ketertinggalan ini terutama disebabkan oleh infrastruktur pengisian daya yang belum merata dan harga listrik yang relatif tinggi.
Motus-E Desak Strategi Jangka Panjang Pemerintah
Menghadapi situasi tersebut, Motus-E mendesak pemerintah Italia untuk memanfaatkan fleksibilitas fiskal yang baru diberikan Komisi Eropa. Asosiasi tersebut menilai subsidi jangka pendek tidak cukup untuk mengejar ketertinggalan. “Diperlukan strategi komprehensif, termasuk insentif berkelanjutan dan percepatan pembangunan stasiun pengisian daya,” demikian pernyataan resmi Motus-E.
Tanpa langkah struktural, Italia berisiko tetap menjadi pasar mobil listrik paling lambat di antara negara ekonomi besar Eropa — meskipun sempat mencatat lonjakan historis pada Juni 2026.