PASAMAN BARAT — Antrean panjang kendaraan di SPBU Sariak Simpang Tiga, Kecamatan Luhak Nan Duo, sudah menjadi pemandangan rutin setiap kali stok Pertalite dan Biosolar tiba. Warga Jorong Laban, Nagari Kapa, Hengki (25), mengungkapkan bahwa kondisi ini bukan sekadar lonjakan pembeli biasa, melainkan akibat ulah puluhan pelangsir.
Antrean Motor Capai Enam Baris, Truk Dua Baris
Hengki menjelaskan, antrean truk bisa mencapai 300 meter dengan dua baris kendaraan. Sementara itu, antrean sepeda motor bahkan memakan badan jalan hingga enam baris. “Kondisi ini dipicu oleh ulah puluhan pelangsir yang menimbun BBM bersubsidi untuk dijual kembali secara eceran dengan berbagai modus,” katanya kepada Sumbarkita, Jumat (10/7/2026).
Ia mengaku setiap hari melihat lebih dari 30 pelangsir beroperasi di lokasi tersebut. Mereka menggunakan berbagai kendaraan, mulai dari mobil, jeriken yang ditutup plastik, hingga sepeda motor dengan tangki yang sudah dimodifikasi.
Motor Modifikasi Isi Pertalite Rp350 Ribu Sekali Isi
Salah satu modus yang paling mencolok, menurut Hengki, adalah penggunaan sepeda motor dengan tangki bensin yang telah dimodifikasi. “Satu motor modifikasi bahkan bisa mengisi Pertalite hingga Rp350 ribu sekali isi. Logikanya, tidak ada tangki motor standar yang muat sebanyak itu,” ujarnya.
Para pelangsir motor kerap melakukan pengisian secara berulang dalam rentang waktu yang sangat berdekatan. Aktivitas ini membuat warga setempat dan pengendara umum lainnya merasa sangat terganggu karena durasi antrean menjadi sangat panjang.
Modus Ban Bocor untuk Dapat Prioritas
Hengki juga membeberkan trik lain yang digunakan para pelaku. Ada pelangsir yang sengaja membawa motor dengan kondisi ban bocor agar mendapatkan prioritas atau ruang khusus di antrean. “Mereka memanfaatkan celah untuk mengisi lebih cepat, sementara warga biasa harus menunggu lebih lama,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak SPBU maupun aparat setempat terkait maraknya praktik pelangsiran BBM bersubsidi di Kecamatan Luhak Nan Duo. Warga berharap ada pengawasan lebih ketat dari Pertamina dan kepolisian agar distribusi BBM bersubsidi tepat sasaran.