PADANG — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatera Barat mencatat sebanyak 19 titik panas yang memicu pekatnya kabut asap di Kota Padang dan sekitarnya. Kondisi ini diperparah kiriman asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi tetangga.
Berdasarkan pantauan foto udara, Minggu (6/9/2026), kabut asap tampak tebal menutupi area perbukitan di ibu kota provinsi tersebut. Jarak pandang warga pun berkurang drastis, terutama di kawasan dataran tinggi.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
DLH Sumatera Barat mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna menekan risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap. Imbauan ini ditujukan khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Jika terpaksa keluar rumah, warga diminta menggunakan masker saat berpergian. Langkah ini dinilai efektif untuk meminimalkan dampak buruk kabut asap pada saluran pernapasan.
Dampak Karhutla Lintas Provinsi Makin Terasa
Persoalan kabut asap di Sumatera Barat tahun ini tidak hanya berasal dari titik api di dalam wilayah sendiri. Kontribusi asap dari karhutla provinsi tetangga membuat konsentrasi partikel polutan di udara semakin tinggi.
Fenomena ini berulang setiap musim kemarau, namun intensitasnya bisa berbeda-beda tergantung jumlah titik panas dan arah angin. Masyarakat di pesisir maupun perbukitan Padang merasakan dampak langsung dari memburuknya kualitas udara.
Antisipasi Karhutla Perlu Diperkuat
Dengan masih terdeteksinya belasan titik panas, upaya pencegahan dan pemadaman dini menjadi kunci. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara dibakar karena berisiko memperluas area kebakaran dan memperparah kabut asap.
Pemerintah daerah diharapkan memperketat pengawasan di wilayah rawan karhutla serta mempercepat respons pemadaman ketika titik api mulai muncul. Koordinasi lintas provinsi juga diperlukan untuk menangani sumber asap yang berasal dari luar Sumatera Barat.