DHARMASRAYA — Udara di Dharmasraya diperkirakan akan memburuk dalam waktu dekat. Berdasarkan pemodelan Stasiun GAW Bukit Koto Tabang, indeks kualitas udara di kabupaten itu diprakirakan melampaui ambang batas normal atau berada di atas 5,5 mikrogram per meter kubik, dan berlangsung hampir separuh hari.
Kepala Stasiun GAW Bukit Koto Tabang, Sugeng Nugroho, mengatakan kondisi tidak sehat itu diprediksi mulai terjadi sekitar pukul 13.00 WIB hingga tengah malam nanti. Namun, ia menambahkan situasi bisa membaik lebih cepat apabila hujan turun dan memadamkan sumber emisi di lapangan.
Penyebab Memburuknya Kualitas Udara di Dharmasraya
Peningkatan jumlah hotspot menjadi pemicu utama. Berdasarkan pantauan pada Minggu (23/8/2026), titik panas terdeteksi cukup banyak di Dharmasraya, menjadikannya satu-satunya wilayah di Sumbar yang memiliki hotspot dalam 48 jam terakhir.
“Kalau untuk titik panas, hampir merata di Sumatera. Bahkan sampai Sumatera Utara. Kecuali Sumbar, masih aman karena hujan masih dominan turun,” kata Sugeng saat diwawancarai, Senin (24/8/2026).
Selain sumber emisi lokal, asap juga berpotensi terbawa dari luar daerah. Peningkatan hotspot turut terjadi di wilayah perbatasan seperti Sumatera Selatan dan Jambi, yang dapat memengaruhi kualitas udara Dharmasraya.
“Angin dominan bertiup dari arah timur, tenggara dan selatan. Jadi, bisa saja ada pengaruh dari sumber emisi di wilayah tetangga,” jelasnya.
Wilayah Lain di Sumbar Masih Aman
Berbeda dengan Dharmasraya, kondisi udara di kabupaten dan kota lain di Sumatera Barat masih relatif aman. Berdasarkan parameter partikulat PM2,5, kualitas udara di Sumbar saat ini masih berada dalam kategori sedang.
Sugeng menyebut kondisi hotspot di kawasan Bukit Barisan sebelumnya hanya bersifat sementara. Hingga pukul 08.00 WIB, kondisi tersebut kembali membaik dan tidak terpantau titik panas di wilayah Sumbar lainnya.
Imbauan untuk Kelompok Rentan dan Pengendara
Masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak usia dini, lanjut usia, pekerja luar ruangan, serta warga dengan penyakit bawaan, diminta meningkatkan kewaspadaan. Paparan udara tidak sehat dapat memperburuk kondisi kesehatan, termasuk gangguan pernapasan seperti ISPA.
“Masyarakat harus menjadi perhatian. Bisa menggunakan masker atau pelindung pernapasan,” kata Sugeng.
Bagi pengendara, ia mengingatkan agar menggunakan perlindungan tambahan seperti kacamata dan helm untuk mengurangi risiko iritasi akibat debu dan partikulat di udara.