SUMATERA BARAT — Film Lobang Buaya garapan Hanung Bramantyo tayang sebagai drama misteri berbalut horor dan thriller yang berlatar 1964, sekitar setahun sebelum tragedi Gerakan 30 September 1965. Hanung menyebut film ini sebagai fiksi, buah dari obsesinya menggarap ulang Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) versi modern yang batal terwujud. Hasilnya jauh dari kata padu, dengan sejumlah catatan mulai dari naskah, kostum, hingga penampilan para pemain.
Hanung Bramantyo dan Haqi Ahmad menulis cerita Lobang Buaya sebagai drama misteri yang menempel pada tragedi G30S, bukan sebagai penelusuran sejarah dari sudut pandang anak muda masa kini. Pilihan itu memunculkan pertanyaan soal arah kreatif: mengapa cerita berlatar masa lalu justru lalai mengamankan detail-detail kecil penunjang ceritanya.
Formula fiksi, sejarah, horor, religi, konspirasi, dan thriller di film ini tidak saling mendukung. Hanung terasa ugal-ugalan mengorkestrasi semua elemen itu dalam durasi 113 menit. Alurnya akan lebih mulus bila ia fokus pada dua atau tiga elemen saja dan mendalaminya.
Sinopsis Singkat dan Premis
Lobang Buaya adalah film fiksi yang mengangkat latar waktu 1964, sekitar setahun sebelum tragedi berdarah 1965. Hanung sudah menegaskan bahwa film ini bukan dokumenter sejarah, melainkan imbas dari mimpi menggarap ulang Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) versi modern yang gagal terwujud.
Baskara Mahendra memerankan Letnan Kolonel Soegeng, sementara Khiva Iskak tampil sebagai Suradi, karakter antagonis yang menjadi lawan mainnya.
Kostum dan Seragam Militer Jadi Sorotan
Hagai Pakan yang biasanya lihai memilih kostum untuk para pemain kali ini meleset, khususnya untuk karakter angkatan bersenjata yang punya screen time besar. Ketidakmiripan seragam terpampang nyata di layar, mulai dari jenis warna hijau, model dan jenis kancing, tanda pangkat, hingga jenis nametag.
Entah karena tidak memiliki izin dari TNI/Polri untuk mereplikasi seragam masa itu atau sebab lain, hasilnya jauh dari citra aparat angkatan bersenjata. Bahkan untuk menyamai gambaran aparat bersenjata pada Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) pun masih jauh.
Seragam PDL militer dan polisi masa kini memang berbeda dengan masa lalu, dan berbagai arsip di internet menegaskan hal itu. Namun di film ini, bahkan dilihat sekilas, Baskara dan pasukannya sudah terlihat seperti "gadungan". Hagai Pakan seolah mati ide sehingga memilih model baju safari "yang penting" hijau untuk pakaian karakter Letnan Kolonel.
Rambut Baskara Mahendra Dianggap Ganggu Estetika
Catatan juga muncul untuk tim hair-do. Entah tidak mendapat restu memotong rambut Baskara atau tidak menyiapkan potongan ala tentara, yang jelas terasa aneh ada tentara dengan rambut sepanjang milik Baskara.
Military hair look yang cepak adalah standar penampilan tentara dan sudah ada sejak lama, salah satunya sejak Perang Dunia yang sering jadi referensi film perang dan militer. Melihat Baskara memerankan prajurit berpangkat cukup tinggi tapi rambutnya menyentuh kuping atau mengembang di bagian atas kepala, estetika film berunsur militer pun terganggu.
Baskara juga tampak tidak melakukan latihan fisik untuk meresapi perannya. Walau tidak ada tuntutan adegan aksi, rupa yang ditampilkan sebagai Soegeng meragukan validitas karakternya sebagai prajurit militer, apalagi mengingat pangkatnya. Wajar bila ia tak bisa membawa aura seorang militer.
Efek Visual dan Tata Rias
Keganjilan terasa dari efek visual dan komputerisasi dalam sejumlah adegan "horor", meski Hanung bilang ini bukan film horor. Penggunaan efek visual yang aneh menunjukkan standar efek visual Hanung belum ada perkembangan berarti sejak Tuhan Izinkan Aku Berdosa (2023).
Tata rias dan prostetik untuk "adegan horor" justru terbilang apik. Tim rias jelas paham membuat riasan yang natural dan sesuai latar waktu ceritanya, hanya saja belum diimbangi hasil riset kostum yang mumpuni.
Diksi Modern dan Penampilan Khiva Iskak
Tujuan Hanung agar anak muda zaman TikTok tidak melupakan sejarah dan misteri tragedi G30S memang mulia. Hanya saja, penggunaan dialek dan diksi modern dalam percakapan karakter makin membuat Lobang Buaya yang berlatar 1964 terasa ganjil.
Di tengah sejumlah catatan itu, Khiva Iskak sebagai lawan main Baskara tampil apik sebagai karakter antagonis. Khiva mampu memainkan perkembangan karakter Suradi yang ekstrem.
Lobang Buaya memperlihatkan bahwa ambisi Hanung membawa sejarah ke layar lebar lewat kemasan genre masih menyisakan pekerjaan rumah besar, terutama pada akurasi detail dan keseimbangan elemen cerita.