SUMATERA BARAT — TIFFCOM 2025 digelar di Tokyo dengan membawa misi memperluas jaringan global konten Jepang setelah sukses menjadi Country of Honour di Marché du Film Cannes. Pameran konten tahunan ini menaikkan jumlah pemegang hak IP di Tokyo IP Market dari enam menjadi sepuluh perusahaan, termasuk Kadokawa, Toei, dan Shochiku. Ajang ini juga menyeleksi 24 proyek co-production untuk mencari pendanaan di Tokyo Gap Financing Market.
Pemerintah Jepang menargetkan penjualan konten ke luar negeri menembus 20 triliun yen atau sekitar 126 miliar dolar AS pada 2033. Target itu tertuang dalam program Content Industry Growth Investment Support Program yang dikenal sebagai IP360, mencakup film, anime, game, dan musik.
Dukungan fiskal tersebut menjadi salah satu alasan TIFFCOM tahun ini tampil lebih agresif dibanding edisi sebelumnya. Pameran konten yang rutin digelar di Tokyo itu kini memposisikan diri sebagai jembatan antara pemilik IP Jepang dan produser internasional.
Dari Cannes ke Tokyo: Modal Kepercayaan Pasar Global
Pada Marché du Film di Cannes tahun ini, Jepang dipercaya sebagai Country of Honour. Status itu membawa Jepang terlibat dalam sejumlah panel, workshop, dan lab, termasuk program Cannes Animation, Co-Production Day, dan Producers Network.
Di ajang yang sama, Jepang meluncurkan Japan IP Market selama tiga hari hasil kerja sama Marché du Film dengan TIFFCOM. CEO TIFFCOM Yasushi Shiina menyebut kolaborasi sektor publik dan swasta di Cannes membuka jaringan dengan produser dan distributor internasional.
"At Cannes this year, as the Country of Honour, the public and private sectors joined forces to showcase Japan's key strengths, including anime and manga," ujar Shiina dalam keterangan yang dikutip Deadline.
Shiina menambahkan, momentum itu mendorong transformasi industri konten Jepang menjadi industri berbasis IP yang menghasilkan pendapatan global. TIFFCOM, menurutnya, akan memanfaatkan posisi sebagai tuan rumah untuk mempertemukan peserta internasional dengan mitra Jepang.
Tokyo IP Market Tambah Empat Pemegang Hak
Program inti TIFFCOM, Tokyo IP Market: Adaptation & Remake (TIPM), mempertemukan penerbit dan rumah produksi pemegang hak manga, karya audiovisual, novel, dan game. Jumlah pemegang IP yang berpartisipasi naik dari enam menjadi sepuluh perusahaan.
Nama-nama yang terlibat antara lain Amuse Creative Studio, Kadokawa, Nippon Animation, Shochiku, dan Toei. Delapan dari perusahaan tersebut menggelar open pitch event dengan dukungan audiovisual dari Imagica Group untuk mempresentasikan IP unggulan mereka.
Managing Director TIFFCOM Kaori Ikeda menyebut respons pasar terhadap edisi Cannes sangat kuat. "Thanks to this success, the Tokyo edition is seeing an increasing number of leading producers attending from Europe and Hollywood," kata Ikeda.
Pertemuan satu lawan satu antara pemegang hak dan produser internasional dijadwalkan berlangsung, mayoritas peserta berasal dari Amerika Utara, Eropa, dan Asia.
24 Proyek Co-Production Cari Pendanaan di TGFM
Jalur lain yang dibuka TIFFCOM adalah Tokyo Gap Financing Market (TGFM). Forum ini menampilkan proyek berunsur Asia dengan minimal 60 persen pendanaan sudah terkumpul, yang masih mencari sisa anggaran lewat co-production, penjualan, distribusi, atau investasi lain.
Tahun ini TGFM memilih 24 proyek, termasuk 38.83 garapan Vincci Cheuk (co-production Hong Kong-Jepang), Trinity karya Boo Junfeng, dan Back To Tomioka arahan François-Marc Baillet. Lima proyek lolos lewat kemitraan dengan Frontières dari Kanada, tiga lewat Cinecitta Italia.
Sesi talk TGFM juga memperkenalkan skema dukungan Jepang, termasuk hibah co-production internasional dari Agency for Cultural Affairs (Bunka-cho), plus pendanaan dari Kanada dan Brasil.
Merambah Asia Tenggara dan Eropa
Produser Jepang sudah lama berkolaborasi dengan Taiwan dan Korea Selatan. Kini mereka melangkah lebih jauh ke Asia Tenggara dan Eropa, didorong dua faktor menurut Ikeda.
"First, production volume is increasing across Asia as a whole, including Southeast Asia, and production capabilities are also rising," jelasnya. Faktor kedua, makin banyak forum festival film dan market Asia yang mempertemukan pelaku industri lintas negara.
Bagi industri hiburan Indonesia, geliat ini membuka peluang kemitraan langsung dengan pemegang IP Jepang di sektor anime, manga, dan live-action. TGFM dan TIPM menjadi pintu masuk bagi produser lokal yang ingin menggarap proyek adaptasi atau co-production.
TIFFCOM 2025 menempatkan Jepang bukan lagi sekadar pasar domestik raksasa, melainkan pemain aktif dalam rantai produksi global.