SUMATERA BARAT — Kebakaran terjadi sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Para pekerja dan warga sekitar yang pertama kali melihat kepulan asap sempat berupaya memadamkan api menggunakan alat pemadam portabel dan air. Namun, tumpukan kayu kering serta persediaan cat di dalam pabrik membuat api membesar dengan cepat dan tak terkendali.
“Kami mencoba menyemprot dari luar, tetapi apinya sudah membesar di bagian tengah bengkel. Dalam 15 menit, seluruh atap ambruk,” ujar seorang saksi di lokasi sebagaimana dilaporkan media setempat.
Dua Bengkel Ludes, Ratusan Petugas Dikerahkan
Tim Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Wilayah 32 dari Kepolisian Kota Ho Chi Minh City menerima laporan pada pukul 22.29. Mereka mengerahkan puluhan personel dan sejumlah truk pemadam khusus ke lokasi. Penilaian awal menunjukkan api melahap dua bengkel dengan luas masing-masing sekitar 8.500 meter persegi.
Proses pemadaman berlangsung hingga dini hari Senin (10/6). Petugas fokus mencegah api merembet ke bangunan pabrik lain di sekitarnya yang juga dipenuhi bahan baku kayu. Material mudah terbakar yang dominan membuat upaya pengendalian api berlangsung ekstra hati-hati.
Kerugian Material Masih Dihitung, Penyebab Diselidiki
Pihak berwenang saat ini masih melakukan pendataan terhadap nilai kerugian properti. Mengingat luas area yang terbakar dan jenis material yang tersimpan, kerugian ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah. Belum ada pernyataan resmi dari manajemen perusahaan pengolahan kayu tersebut mengenai dampak operasional pasca-kebakaran.
Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Tim laboratorium forensik kebakaran telah diterjunkan ke lokasi untuk mengumpulkan sampel dan memeriksa kemungkinan korsleting listrik atau faktor kelalaian manusia. “Kami belum bisa menyimpulkan apa pun hingga hasil investigasi rampung,” kata seorang perwira di lokasi kejadian.
Kebakaran pabrik pengolahan kayu di kawasan industri pinggiran Ho Chi Minh City ini menjadi peringatan dini bagi perusahaan sejenis untuk meningkatkan sistem proteksi kebakaran. Insiden sebelumnya di wilayah tersebut juga kerap dipicu oleh tata kelola bahan mudah terbakar yang longgar.