SUMATERA BARAT — Pernyataan Winkelmann ini muncul di tengah kontroversi yang menyelimuti debut mobil listrik perdana Ferrari, yang dikabarkan bernama Luce EV. Langkah pabrikan asal Maranello tersebut justru menuai kritik pedas, mulai dari desain hingga respons pasar saham. Lamborghini, yang bermarkas di Sant'Agata Bolognese, mengambil sikap berseberangan dengan memilih jalur transisi yang lebih bertahap.
Pasar Belum Matang untuk Supercar Listrik Murni
Menurut Winkelmann, para penggemar dan konsumen setia Lamborghini masih mendambakan pengalaman berkendara yang otentik. Sensasi khas dari mesin pembakaran internal yang dikombinasikan dengan sentuhan teknologi elektrifikasi melalui sistem hybrid dinilai sebagai keseimbangan ideal antara performa dan tuntutan emisi.
"Keputusan kami untuk bertransisi dari mesin konvensional ke plug-in hybrid merupakan langkah krusial yang sejauh ini terbukti membuahkan hasil," ujar Winkelmann, seperti dikutip dari berbagai sumber media. Ia menambahkan bahwa setiap pabrikan memiliki pendekatan unik, dan Lamborghini memilih hybrid sebagai fondasi inovasi tanpa mengorbankan identitas merek.
Kritik Pedas dan Dampak ke Saham Ferrari
Situasi berbeda terjadi di kubu Ferrari. Luce EV, mobil listrik pertama mereka, disambut dengan kritik tajam. Desain minimalis yang melibatkan mantan desainer Apple, Jony Ive, dinilai terlalu jauh dari karakter agresif dan menggoda khas "Il Cavallino Rampante". Interior yang didominasi layar sentuh dan eksterior membulat dianggap kehilangan jiwa supercar Italia.
Dampak negatif ini langsung terasa di bursa saham. Laporan menyebutkan nilai saham Ferrari anjlok hingga 8 persen di bursa Milan sesaat setelah peluncuran resmi Luce EV. Para analis mengaitkan penurunan tersebut dengan fenomena "design hate" dari publik terhadap estetika mobil listrik tersebut.
Tokoh Penting Ikut Bersuara
Kritik tidak hanya datang dari publik awam. Mantan bos Ferrari, Luca di Montezemolo, dan Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini, turut menyuarakan kekecewaan. Mereka berpendapat bahwa Luce EV telah kehilangan esensi Ferrari yang identik dengan suara deru mesin buas dan desain pembangkit emosi.
Di tengah gejolak tersebut, pendekatan Lamborghini yang lebih hati-hati dinilai sebagai langkah aman. Dengan tetap mempertahankan elemen kunci mesin konvensional sambil mengintegrasikan teknologi hybrid, mereka berupaya menjaga loyalitas konsumen. Perdebatan soal masa depan supercar dan peran elektrifikasi ini dipastikan akan menjadi studi kasus menarik di industri otomotif mewah.